Selasa, 27 Oktober 2009

Berkaca pada tokoh pahlawan


BUNG TOMO

Sutomo (lahir di Surabaya, Jawa Timur, 3 Oktober 1920 – meninggal di Padang Arafah, Arab Saudi, 7 Oktober 1981 pada umur 61 tahun) lebih dikenal dengan sapaan akrab oleh rakyat sebagai Bung Tomo, adalah pahlawan yang terkenal karena peranannya dalam membangkitkan semangat rakyat untuk melawan kembalinya penjajah Belanda melalui tentara NICA, yang berakhir dengan pertempuran 10 November 1945 yang hingga kini diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Sutomo dilahirkan di Kampung Blauran, di pusat kota Surabaya. Ayahnya bernama Kartawan Tjiptowidjojo, seorang kepala keluarga dari kelas menengah. Ia pernah bekerja sebagai pegawai pemerintahan, sebagai staf pribadi di sebuah perusahaan swasta, sebagai asisten di kantor pajak pemerintah, dan pegawai kecil di perusahan ekspor-impor Belanda. Ia mengaku mempunyai pertalian darah dengan beberapa pendamping dekat Pangeran Diponegoro yang dikebumikan di Malang. Ibunya berdarah campuran Jawa Tengah, Sunda, dan Madura. Ayahnya adalah seorang serba bisa. Ia pernah bekerja sebagai polisi di kotapraja, dan pernah pula menjadi anggota Sarekat Islam, sebelum ia pindah ke Surabaya dan menjadi distributor lokal untuk perusahaan mesin jahit Singer.

Sutomo dibesarkan di rumah yang sangat menghargai pendidikan. Ia berbicara dengan terus terang dan penuh semangat. Ia suka bekerja keras untuk memperbaiki keadaan. Pada usia 12 tahun, ketika ia terpaksa meninggalkan pendidikannya di MULO, Sutomo melakukan berbagai pekerjaan kecil-kecilan untuk mengatasi dampak depresi yang melanda dunia saat itu. Belakangan ia menyelesaikan pendidikan HBS-nya lewat korespondensi, namun tidak pernah resmi lulus.

Sutomo kemudian bergabung dengan KBI (Kepanduan Bangsa Indonesia). Belakangan Sutomo menegaskan bahwa filsafat kepanduan, ditambah dengan kesadaran nasionalis yang diperolehnya dari kelompok ini dan dari kakeknya, merupakan pengganti yang baik untuk pendidikan formalnya. Pada usia 17 tahun, ia menjadi terkenal ketika berhasil menjadi orang kedua di Hindia Belanda yang mencapai peringkat Pandu Garuda. Sebelum pendudukan Jepang pada 1942, peringkat ini hanya dicapai oleh tiga orang Indonesia.

Sutomo pernah menjadi seorang jurnalis yang sukses. Kemudian ia bergabung dengan sejumlah kelompok politik dan sosial. Ketika ia terpilih pada 1944 untuk menjadi anggota Gerakan Rakyat Baru yang disponsori Jepang, hampir tak seorang pun yang mengenal dia. Namun semua ini mempersiapkan Sutomo untuk peranannya yang sangat penting, ketika pada Oktober dan November 1945, ia berusaha membangkitkan semangat rakyat sementara Surabaya diserang habis-habisan oleh tentara-tentara NICA. Sutomo terutama sekali dikenang karena seruan-seruan pembukaannya di dalam siaran-siaran radionya yang penuh dengan emosi, "Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!"

Meskipun Indonesia kalah dalam pertempuran 10 November itu, kejadian ini tetap dicatat sebagai salah satu peristiwa terpenting dalam sejarah Indonesia.

Setelah kemerdekaan Indonesia, Sutomo sempat terjun dalam dunia politik pada tahun 1950-an, namun ia tidak merasa bahagia dan kemudian menghilang dari panggung politik. Pada akhir masa pemerintahan Soekarno dan awal pemerintahan Suharto yang mula-mula didukungnya, Sutomo kembali muncul sebagai tokoh nasional.

Padahal, berbagai jabatan kenegaraan penting pernah disandang Bung Tomo. Ia pernah menjabat Menteri Negara Urusan Bekas Pejuang Bersenjata/Veteran sekaligus Menteri Sosial Ad Interim pada 1955-1956 di era Kabinet Perdana Menteri Burhanuddin Harahap. Bung Tomo juga tercatat sebagai anggota DPR pada 1956-1959 yang mewakili Partai Rakyat Indonesia.

Namun pada awal 1970-an, ia kembali berbeda pendapat dengan pemerintahan Orde Baru. Ia berbicara dengan keras terhadap program-program Suharto sehinga pada 11 April 1978 ia ditahan oleh pemerintah Indonesia yang tampaknya khawatir akan kritik-kritiknya yang keras. Baru setahun kemudian ia dilepaskan oleh Suharto. Meskipun semangatnya tidak hancur di dalam penjara, Sutomo tampaknya tidak lagi berminat untuk bersikap vokal.

Ia masih tetap berminat terhadap masalah-masalah politik, namun ia tidak pernah mengangkat-angkat peranannya di dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Ia sangat dekat dengan keluarga dan anak-anaknya, dan ia berusaha keras agar kelima anaknya berhasil dalam pendidikannya.

Sutomo sangat bersungguh-sungguh dalam kehidupan imannya, namun tidak menganggap dirinya sebagai seorang Muslim saleh, ataupun calon pembaharu dalam agama. Pada 7 Oktober 1981 ia meninggal dunia di Padang Arafah, ketika sedang menunaikan ibadah haji. Berbeda dengan tradisi untuk memakamkan para jemaah haji yang meninggal dalam ziarah ke tanah suci, jenazah Bung Tomo dibawa kembali ke tanah air dan dimakamkan bukan di sebuah Taman Makam Pahlawan, melainkan di Tempat Pemakaman Umum Ngagel di Surabaya.

Gelar pahlawan nasional akhirnya diberikan ke Bung Tomo bertepatan pada peringatan Hari Pahlawan tanggal 10 November 2008. Keputusan ini disampaikan oleh Menteri Komunikasi dan Informatika Kabinet Indonesia Bersatu, Muhammad Nuh pada tanggal 2 November 2008 di Jakarta.

usahanya dalam membela perlawanan orang-orang Surabaya patut kita contoh. Ia lah yang membakar semangat masyarakat Surabaya dalam menghadapi NICA. meskipun akhirnya kalah, namun kita tetap harus mencontoh semangatnya yang sangat besar itu.

Jumat, 23 Oktober 2009

Resensi Novel Sang Pemimpi

Judul Buku : Sang Pemimpi

Pengarang : Andrea Hirata

Penerbit : Bentang Pustaka

Cetakan : November 2004

Tebal : 290 halaman

Harga : Rp. 48.000,00

Ini adalah buku kedua dari tetraloginya Andrea Hirata. Novel ini menceritakan tentang Ikal(penulis itu sendiri/Andrea Hirata) bersama kedua temannya yaitu Arai dan Jimbron meraih mimpi-mimpinya. Novel ini merupakan lanjutan dari novel sebelumnya yaitu Laskar Pelangi. Di dalam novel ini terdapat beberapa karakter selain 3 tokoh utama, diantaranya yaitu Pak Mustar. Pak Mustar adalah seorang Kepala Sekolah SMA Bukan Main.

3 Seorang pemimpi(Ikal, Arai, Jimbron). Setelah tamat SMP, melanjutkan ke SMA Bukan Main. Disinilah perjuangan dan mimpi mereka bertiga ini dimulai. Ikal, salah satu dari anggota Laskar Pelangi, Arai, adalah saudara sepupu Ikal. Arai yang sudah yatim piatu sejak SD dan tinggal di rumah Ikal, sudah dianggap seperti anak sendiri oleh Ayah dan Ibu Ikal. Arai bias disebut juga sebagai Simpai Keramat. Orang Melayu biasa memberi julukan Simpai Keramat untuk orang terakhir yang tersisa dalam suatu klan. Dan Jimbron, anak angkat seorang pendeta yang biasa dipanggil Pendeta Geo karena yatim piatu juga sejak kecil sama halnya seperti Arai. Namun pendeta yang sangat baik dan tidak memaksakan keyakinan Jimbron, malah mengantarkan Jimbron menjadi muslim yang taat. Contohnya ketika Pendeta tersebut ikhlas mengantar Jimbron untuk pergi mengaji.

Arai dan Ikal begitu pintar dalam sekolahnya, sedangkan Jimbron, si penggemar kuda ini biasa-biasa aja. Malah menduduki rangking 78 dari 160 siswa. Sedangkan Ikal menduduki peringkat 3 dan Arai peringkat 5. Mimpi mereka sangat tinggi, karena bagi Arai, orang susah seperti mereka tidak akan berguna tanpa mimpi-mimpi. Mereka berdua mempunyai mimpi yang tinggi yaitu melanjutkan pendidikannya ke S Arbonne Perancis. Mereka terpukau dengan cerita Pak Belia, guru seninya, yang selalu meyebut-nyebut indahnya kota itu. Kerja keras, menjadi kuli ngambat mulai pukul 2 pagi sampai jam 7 dan dilanjutkan dengan sekolah, itulah perjuangan ketiga pemuda itu. Mati-matian mewujudkan impiannya. Ya, meskipun tabungan mereka tidak akan cukup untuk samapi kesana. Tapi jiwa optimisme Arai tak terbantahkan.

Hal yang paling lucu dalam novel ini yaitu ketika mereka bertiga mencoba untuk menonton film dewasa di dalam bioskop. Padahal Pak Mustar(Kepala Sekolah SMA Bukan Main) telah melarang seluruh anak-anak untuk tidak menonton film tersebut. Namun mereka bertiga yang penasaran berulang kali mencoba untuk menembus penjagaan untuk dapat menonton film tersebut. Mereka sudah tidak peduli lagi dengan larangan Pak Mustar. Dan akhirnya, setelah berulang kali mencoba, mereka akhirnya kesampaian untuk dapat menonton film tersebut. Mereka sangat asyik menimati tiap adegan dalam film tersebut, namun ketika hampir sampai dalam adegan puncak, tiba-tiba layar bioskop mati dan ternyata Pak Mustar sudah berada di depan mereka bertiga, dan siap memberi hukuman.

Setelah selesai SMA, Arai dan Ikal merantau ke Jawa, Bogor tepatnya. Sedangkan Jimbron lebih memilih untuk menjadi pekerja di ternak kuda di Belitong. Jimbron menghadiahkan kedua celengan kudanya yang berisi tabungannya selama ini kepada Ikal dan Arai. Dia yakin kalau Arai dan Ikal sampai di Perancis, maka jiwa Jimbron pun akan selalu bersama mereka. Berbula-bulan bersusah payah di Bogor, mencari pekerjaan untuk bertahan hidup susahnya minta ampun. Akhirnya setelah banyak pekerjaan tidak bersahabat ditempuh, Ikal diterima menjadi tukang sortir (tukang Pos), dan Arai memutuskan untuk merantau ke Kalimantan Tahun berikutnya, Ikal memutuskan untuk kuliah di Ekonomi UI. Dan setelah lulus, ada lowongan untuk mendapatkan biasiswa S2 ke Eropa. Beribu-ribu pesaing berhasil ia singkirkan dan akhirnya sampailah pada pertandingan untuk memperebutkan 15 besar.

Saat wawancara tiba, tidak disangka, profesor pengujinya begitu terpukau dengan proposal riset yang diajukan Ikal, meskipun hanya berlatar belakang sarjana Ekonomi yang masih bekerja sebagai Tukang Sortir, tulisannya begitu hebat. Akhirnya setelah wawancara selesai, siapa yang menyangka. Kejutan yang luar biasa. Arai pun ikut dalam wawancara itu. Bertahun-tahun tanpa kabar berita, akhirnya mereka berdua dipertemukan dalam suatu forum. Begitulah Arai, selalu penuh dengan kejutan. Semua ini sudah direncanaknnya bertahun-tahun. Ternyata dia kuliah di Universitas Mulawarman dan mengambil jurusan Bilogi. Tidak kalah dengan Ikal, proposal Risetnya juga begitu luar biasa.

Akhirnya sampai juga mereka pulang kampung ke Belitong. Dan ketika ada surat datang, mereka berdebar-debar membuka isinya. Ternyata isinya adalah pengumuman penerima Beasiswa ke Eropa. Arai begitu sedih karena dia sangat merindukan kedua orang tuanya. Sangat ingin membuka surat itu bersama orang yang sangat dia rindukan. Kegelisahan dimulai. Tidak kuasa mengetahui isi dari surat itu. Akhirnya Ikal diterima di Perguruan tinggi, Sarbone Perancis. Setelah perlahan mencocokkan dengan surat Arai, menakjubkan!, inilah jawaban dari mimpi-mimpi mereka. Kedua sang pemimpi ini ternyata diterima di Universitas yang sama. Tapi ini bukan akhir dari segalanya. Disinilah perjuanagan dari mimpi itu dimulai, dan siap melahirkan anak-anak mimpi berikutnya.

Setelah membaca novel ini, ada banyak hikmah yang dapat kita ambil, salah satunya yaitu sifat pantang menyerah Arai dan Ikal untuk melanjutkan sekolah mereka sampai ke Perancis. Dan mereka membuktikannya dengan cara belajar sungguh-sungguh dan bekerja keras untuk meraih mimpi-mimpi mereka.

Bahasa yang digunakan dalam novel ini adalah seluruhnya bahasa Indonesia, namun ada sebagian kata-kata atau istilah yang sulit untuk dimengerti. Untuk itu, Andrea Hirata sudah mempersiapkannya dengan cara menambahkan sedikit glosarium dibagian akhir buku. Bahasa novel ini tidak terlalu mudah, agak berbelit, namun masih dapat dimengerti dalam satu kali baca. Kemampuan penulis juga dapat terlihat, dengan menunjukkan bahasa-bahasa yang menarik yang tidak bosan untuk dibaca.

Yang menarik dalam novel ini yaitu buku ini merupakan buku kedua dari tetralogi Laskar Pelangi. Novel ini juga menjadi kelanjutan dari cerita novel Laskar Pelangi yang sangat terkenal itu. Cerita di novel ini dibuat senyambung mungkin dengan novel Laskar Pelangi. Setelah novel ini, masih ada 2 novel lagi yang menceritakan kehidupan Andrea Hirata dari yang masih kecil dan hanya bermimpi sampai ia menjadi orang yang telah sukses dan mewujudkan mimpi tersebut.